Facebook

Senin, 07 Februari 2011

Share this history on :


Pada dasarnya, seperti kemajuan teknologi lainnya, FB pun tidak berbeda, tergantung bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan teknologi tersebut untuk kebaikan. Teman-teman yang ada dalam daftar FB kita dikelompokkan, misalnya sesuai dengan minat, agar lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. Pada saat menulis status atau memasang foto, pilih kelompok teman yang bisa membaca atau melihat foto-foto tersebut.

Lewat status teman-teman, saya belajar kembali untuk mengerti sejauh mana saya bisa bercanda dan bagaimana harus menyapa. Apa yang menjadi minat teman-teman saya setelah kami berpisah dan bagaimana saya harus membahasakan diri.

Saya biasanya memperhatikan teman-teman FB saya. Jika selama enam bulan mereka tidak pernah menuliskan status baru, tidak pernah menyapa atau membalas saaapn, saya menghapus mereka dari daftar teman. Menurut opini saya, harus ada usaha dari dua belah pihak untuk membina sebuah hubungan menjadi hubungan yang sehat.

Apa motivasi kita untuk membuka account FB? Hanya kita yang tahu sebenarnya. Saya memiliki akun FB bukan untuk bisnis, bukan untuk ngumpulin jumlah "teman" sebanyak-banyaknya. Bukan itu motivasi saya untuk tetap mempertahankan akun FB ini. Saya terharu dengan beberapa teman yang kirim email menanyakan kabar saya sewaktu saya sempat tutup akun FB beberapa waktu yang lampau. Saya setuju dengan pendapat HL bahwa banyaknya teman tidak menjamin mutu pertemanan itu sendiri.

Saya bersyukur lewat FB ini ada teman-teman lama yang tadinya tidak kenal dekat, sekarang boleh kenal lebih dekat. Yang memang merupakan teman dekat dan merupakan keluarga, jadi lebih gampang untuk berkomunikasi dan memantau kabar satu sama lainnya. FB juga mempertemukan saya dengan teman-teman dekat lama yang tadinya kehilangan kontak karena satu dan lain hal.


Sebetulnya, dari FB kita bisa belajar berusaha menjadi teman yang baik buat teman-teman, sebaik yang kita bisa. It is not all about me.... me, myself, and I*smile. Kita bisa mencoba membaca dari yang tersirat dari statusnya teman. Kita bisa memberikan kata-kata penghiburan atau simpati. Kalau bisa lebih dari itu yang bisa dibuat, ya, lakukan. Kalau ada teman yang mendapatkan rejeki lebih, ya, ikut merayakan kebahagiaan/kesuksesannya juga. Walaupun mungkin kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena kisah hidup, impian dan doa itu memang lebih indah jika dapat kita bagi bersama-sama dengan teman-teman yang kita percayai.

Kalau soal selingkuh.....kita sebaiknya mengenali area kelemahan kita. Kalau kita gampang tergoda sama lawan jenis, kudu lebih bisa mengendalikan diri. Yang namanya naked friend/TTM/friend with benefit/pacar, ya jangan add dia menjadi teman di FB. Lagi pula, untuk apa melihat masa lalu. Ini seperti bayangan semu saja. Luangkan lebih banyak waktu untuk membina hubungan lebih sehat dengan pasangan daripada ngurusin mantan.

Tidak perlu curhat ke mantan dan jangan ladeni lawan jenis yang mau curhat mengenai pasangan resminya. Buat apa, tidak bijaksana. (smile)

Pada saat saya pertama nyebur ke FB, saya juga terkaget-kaget melihat ada beberapa teman tertentu yang rajin banget meng-update statusnya mulai dari bangun tidur sampai mau tidur. Ya, memang ada yang seperti itu. Mungkin dalam kehidupan nyatanya, dia kesepian. Makanya untuk memenuhi kebutuhan itu, dia melakukan hal-hal tersebut.

Tapi setelah beberapa lama saya pikir, “Kasihan juga, ya. Dia sangat memerlukan perhatian”. Kalau kebutuhan ini didapati dari menulis status, ya, sudahlah biarkan saja. Kalau pas luang, ya, tulis komen untuk menunjukkan perhatian. (smile)

Ya, memang orang beda-beda, sih, karakternya. Tujuan dia ber-FB pun berbeda.

Ada teman-teman sekolah dulu. Yang satu, kemana-mana selalu nebeng seorang temen naik motor. Nah, dia menikah dengan seorang gadis dari keluarga Orang Kaya Lama. Hampir setiap hari dia menuliskan kata-kata bijak dan ayat-ayat suci. Ia juga memajang foto-foto dia di berbagai negara, bagaimana dia membeli lahan begitu luas untuk bisnisnya, dia membuka cabang bisnis, dsb, dsb.

Tapi, tidak pernah sekalipun, dia mengucapkan selamat ulang tahun atau menyapa teman-teman kami atau teman-teman dia yang lain, termasuk temannya yang dulu selalu memberikan boncengan kepada dia. Dia mungkin mengucapkan melalui sms, ya? Gak tahu juga, deh. Hanya saja, saya tidak pernah melihat dia menyapa teman yang suka memberikan boncengan tersebut dalam status apapun yang dibuat oleh teman si pemberi boncengan tersebut. Yah, dari FB kita pun bisa mengenali karakter seseorang (smile)

Ada teman yang dulu diantar papanya ke sekolah dengan mobil tua, sedangkan teman-teman lain diantar dengan mobil-mobil mewah. Bahkan, ada teman-teman yang nyetir mobil mewah sendiri ke sekolah, walaupun saya yakin SIM-nya pasti boleh nembak (smile. Lah, memang belum cukup umur, koq, gimana mau punya SIM?)

Nah, teman yang ini juga menikah dengan seorang dari keluarga sangat kaya. Jadi, dia mampu jalan-jalan ke negara-negara tetangga hanya untuk shopping saja. Dia sering meng-update status ketika dia makan di tempat-tempat wah dengan mencantumkan lokasi-lokasinya. Di fotonya, dia sedang menenteng tas belajaan dari butik-butik ternama. Saya turut berbahagia dia punya suami yang bisa memberikan lebih dari kebutuhan pokok yang dia butuhkan.

Ada teman yang dulunya dari keluarga sederhana, tapi karena anugerah dan kerja keras bisa menduduki posisi yang lumayan di perusahan bonafid. Dia pun bisa dikirim ke mancanegara dan membawa pasangannya ke benua lain. Jadi, ketika dia memuat foto-foto dan menulis status-statusnya, saya turut berbahagia dan bangga karena teman ini bisa menjadi suami yang baik dan memberikan kehidupan yang lebih baik buat keluarga.

Banyak, koq, mantan teman-teman sekolah saya yang selalu meng-upload foto-foto mereka ketika berlibur ke mancanegara. Ya, turut bahagia saja mereka hidup diberkati secara finansial.

FB vs Narcissist:
Yah, setiap orang punya, koq, sifat seperti ini. Cuma kadarnya berbeda-beda. (smile)

FB vs produktivitas. Ini, kan, sama saja seperti “membawa perlengkapan kantor ke rumah atau menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan pribadi”. Tergantung hati nurani dan sejauh mana mau belajar mengenai hidup yang berintegritas. (smile)

Mau ber-FB atau tidak, pilihan masing-masing. Tapi memang kudu bijak dan jangan sampai kecanduan. Poin-poin yang diberikan HL baik sebagai peringatan bagi kita yang menggunakan FB.
Thank you for visited me, Have a question ? Contact on : youremail@gmail.com.
Please leave your comment below. Thank you and hope you enjoyed...

0 komentar:

Poskan Komentar

harap para penguna blogger jangan menggunakan komentar yang tidak jelas.tapi yang lebih mendukung